Di Gresik, Pasutri Siap Bangun Pesantren Inklusi untuk ODGJ, Lansia, dan Penyandang Disabilitas
CN24-GRESIK — Kepedulian terhadap kelompok rentan diwujudkan Pondok Pemberdayaan Perempuan Ceha Al Marzuqi (P3CHM) melalui rencana pembangunan Pesantren Inklusi yang diperuntukkan bagi Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), lanjut usia (lansia), serta penyandang disabilitas.
Pembangunan pesantren tersebut dirintis oleh pasangan suami istri, Duta Bintan Fitriyah dan Robbah Khunaifih, yang telah mengembangkan P3CHM selama kurang lebih 14 tahun. Peletakan batu pertama pembangunan kantor Pesantren Inklusi dilaksanakan pada Rabu (12/8/2026) pagi.
Pesantren tersebut berlokasi di Jalan Merpati, Desa Tebuwung, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Sejumlah tokoh dan pejabat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Anggota DPR RI Ahmad Labib, Staf Ahli Gubernur Jawa Timur Ahmad Jazuli, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gresik Ummi Khoiroh, Camat Dukun Gunawan Purna Atmaja, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Gresik KH Zainal Abidin, Kepala Cabang Nurul Hayat (NH) Gresik Sholihul Amin, serta sejumlah undangan lainnya.
Ketua Yayasan P3CHM Duta Bintan Fitriyah mengatakan, pembangunan pesantren inklusi tersebut dilatarbelakangi keprihatinannya terhadap kondisi kelompok rentan yang masih membutuhkan perhatian dan pendampingan.
Menurut Duta, keberadaan ODGJ, lansia, maupun penyandang disabilitas tidak seharusnya dipandang sebelah mata. Mereka membutuhkan ruang yang aman, layak, sekaligus lingkungan yang mampu memberikan pendampingan secara berkelanjutan.
“Di luar sana banyak sekali ODGJ, lansia dan disabilitas yang membutuhkan perhatian. Karena itu, kami ingin pondok ini bisa menjadi rumah bagi mereka,” ujarnya.
Duta menilai, selama ini perhatian masyarakat masih lebih banyak diarahkan pada pembangunan sarana keagamaan seperti masjid. Sementara itu, kebutuhan kelompok rentan terhadap tempat tinggal, pendampingan sosial, kesehatan, hingga pembinaan keagamaan juga tidak kalah penting.
Melalui Pesantren Inklusi tersebut, P3CHM ingin menghadirkan konsep pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga memberikan ruang bagi para penghuni untuk mendapatkan pendampingan secara menyeluruh.
Dalam rangkaian kegiatan peletakan batu pertama, yayasan juga menggelar aksi sosial. Sejumlah bantuan berupa kasur lipat dan paket sembako disalurkan kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi para penerima manfaat.
Duta menjelaskan, program pesantren ke depan juga akan mencakup pendampingan keagamaan bagi lansia dan penyandang disabilitas.
“Kami juga akan membina sisi keagamaannya, sehingga kehidupan dunia dan akhiratnya tetap berjalan seimbang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gresik Ummi Khoiroh mengapresiasi langkah Yayasan P3CHM yang dinilai ikut mengambil peran dalam memberikan perhatian kepada kelompok rentan.
“Kami sangat mengapresiasi. Kami mengucapkan terima kasih kepada Yayasan P3CHM karena ikut bersama-sama memberikan perhatian kepada kelompok rentan,” ujarnya.
Ummi mengatakan, Pemerintah Kabupaten Gresik pada prinsipnya mendukung adanya inisiatif masyarakat yang bergerak dalam bidang sosial dan pemberdayaan kelompok rentan.
Menurutnya, dukungan pemerintah akan diupayakan sesuai dengan ketentuan dan kemampuan anggaran daerah.
“Support dari APBD akan kami upayakan,” pungkasnya.
Peletakan batu pertama tersebut menjadi langkah awal pembangunan Pesantren Inklusi P3CHM. Kehadirannya diharapkan tidak hanya menjadi tempat tinggal dan pendampingan, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan yang memberikan kesempatan bagi ODGJ, lansia, dan penyandang disabilitas untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak, bermartabat, dan tetap memiliki akses terhadap pembinaan sosial maupun keagamaan.
Pewarta Ridwan
Komentar
Posting Komentar